Jumat, 22 Februari 2013

membuntingi ibu




HUBUNGAN sumbangku dengan Bu Niken, guru mengaji ibu-ibu di kampungku termasuk ibuku, tak hanya berhenti setelah permainan empat ronde yang diberikannya di 'malam pertama' kami. Di berbagai kesempatan, kalau lagi kepengen, ia selalu mengontak via SMS. Bahkan jam 2 malam pun kalau sedang kebelet ia nekad menyelundupkanku lewat pintu belakang dan kami menumpahkan hasrat di dapur atau di mana pun di bagian dalam Nikenahnya meskipun Pak Kirno sang suami yang tak berdaya akibat stroke tengah berada di kamarnya.

    Aku tak peduli di memeknya telah muncul jengger ayam yang menggelambir keluar dan lubangnya sudah longgar. Sebagai pelampiasan hasrat mudaku yang terus menggelegak, memek Bu Niken lumayan dapat kunikmati. Aku selalu bergairah setiap mendapat kesempatan untuk meremasi teteknya yang gede meski wajah Bu Niken sudah mulai muncul kerut-kerut tanda ketuaan. Hanya karena letih akibat faktor usia, kadang ia menolak kalau aku lagi pengen dan mengajaknya.

    Bu Niken belakangan juga makin kondang sebagai ustazah. Ia sering dipangil memberi ceramah kelompok pengajian ibu-ibu dari desa lain bahkan dari tempat yang relatif jauh termasuk ke luar kota. Untuk kepentingan itu aku dipercaya sebagai sopir pribadinya secara tak resmi setelah ia mampu membeli mobil sedan tahun 90-an.

    Karena kesibukan barunya itu, meskipun tidak menghentikan total aktivitas sogok memeknya denganku, tetapi frekewensinya menjadi berkurang. Dari yang semula hampir tiap hari menjadi tiga atau empat hari sekali. Bahkan pernah sampai lebih dari seminggu aku tidak naik ke ranjang Bu Niken. Ia mengaku capek karena kegiatan menghadiri pengajian karena makin banyak yang mengundang.

    Frekwensi ajakan Bu Niken untuk ngeseks yang berkurang menjadikanku agak tersiksa. Bagaimana pun aku masih sangat muda dan hasratku masih sangat menggebu. Jadinya aku mulai memperhatikan ibuku. Mengintip saat dia mandi atau terkadang mencuri-curi pandang ke busungan buah dada dan pantatnya yang tak kalah menggoda.

    Kalau hendak keluar Nikenah ibuku juga selalu berjilbab dan berpakaian muslimah. Tetapi kalau lagi di Nikenah, cara berpakaiannya terkadang kelewat sembrono. Daster yang paling sering dipakainya adalah yang tanpa lengan dan panjangnya tidak melampaui lutut. Ia juga jarang memakai kutang. Alasannya agar lebih nyaman karena cuaca yang memang selalu panas.

    Aku sering disuguhi pemandangan mendebarkan. Yakni tonjolan puting-puting susunya di balik daster yang dipakainya. Bahkan terkadang bisa melihat besarnya susu ibuku yang meskipun sudah menggantung bentuknya tetapi masih menarik. Terutama kalau ia memakai daster yang bukaannya terlalu lebar di bagian lengan di bawah ketiaknya.

    Apalagi kalau ia lagi memakai daster yang kelewat ketat berbahan tipis. Pinggul dan pantatnya yang besar terlihat tercetak sempurna. Kalau sudah begitu aku dengan suka rela berada seharian di Nikenah menunggu kesempatan untuk mengintip saat ia mandi. Aku memang sudah membuat lubang tersendiri di kamar mandi agar leluasa mengintipnya.

    Tentang koleksi film porno ibuku seperti yang pernah dikatakan Bu Niken, ternyata juga tidak salah. Aku bisa melihatnya setelah secara mencuri-curi berhasil membuat kunci duplikat dari lemari besar yang ada di kamar tidurnya. Kalau sedang berpergian ibu memang tidak pernah menguci pintu kamar. Tetapi salah satu lemarinya yang ada di kamar selalu terkunci rapat.

    Saat ia pergi, dengan kunci duplikat aku membuka lemari dan melihat koleksi barang-barang pribadi ibuku. Ada perhiasan emas dan berlian yang memang menjadi bisnisnya. Tetapi juga keping-keping DVD film porno yang tersimpan rapi dalam sebuah dus tersendiri. Dan benar, kebanyakan isinya menggambarkan adegan seks antar keluarga atau wanita tua yang main mesum dengan pemuda atau anak ingusan. Juga ada tiruan bentuk penis laki-laki yang terbuat dari karet serta kontol yang bisa bergetar karena dilengkapi penggerak dari baterei.

    Gaya duduk ibu juga sering kelewat terbuka dan ceroboh saat berdua denganku. Dasternya kerap dibiarkan tersingkap dan posisi kakinya membuka lebar. Mempertontonkan paha mulus dan busungan memeknya yang terbungkus celana dalam yang dipakai. Pernah dua atau tiga kali, ibu tidak memakai celana dalam dan aku bisa melihat langsung memeknya. Apakah ibu juga sebenarnya ingin melakukan hubungan seks denganku sebagaimana film-film porno yang dikoleksinya? Pertanyaan itu belakangan makin mengganjal pikiranku setelah pengalaman menyetubuhi Bu Niken dan mengetahui koleksi-koleksi ganjil yang dimiliki ibu.

    Akhirnya kuputuskan untuk mampraktekkan sebuah taktik. Berlaku seolah-olah sebagai pemuda yang menjadi pengagum gelapnya, kukirimkan beberapa SMS ke HP ibu. Tentu saja dengan nomor telepon seluler baru yang sengaja kubeli agar ia tidak tahu kalau aku yang mengirimnya. Untuk kepentingan itu aku sengaja membeli HP murahan tersendiri tanpa sepengetahuan ibuku.

    Beberapa SMS yang kukirim diantaranya berisi tentang kekagumanku selaku pemuda terhadap keindahan tubuh ibukuku. Serta pujian terhadap bentuk tubuhnya yang masih sangat menggoda. Juga kuinformasikan tentang seringnya kuisi malam-malamku dengan onani sambil membayangkan bersetubuh dengannya. Termasuk ungkapan-ungkapan tentang keinginanku untuk menjilati itilnya, meremasi teteknya dan bahkan menyetubuhi dalam berbagai posisi.

    Beberapa SMS ku di hari pertama tidak diresponnya. Ia hanya mencoba beberapa kali menelepon ke nomorku tetapi tidak kuangkat. Namun di hari kedua, setelah sepanjang siang beberapa SMS kukirim padanya, menjelang tengah malam sebuah SMS dari nomor HP nya masuk ke nomorku. Isinya berusaha menyelidik mencari tahu identitasku namun tidak ada kemarahan atau merasa dilecehkan oleh SMS yang kukirimkan.

    Sebagai balasan, lewat SMS kusampaikan bahwa ibu sangat mengenalku. Tetapi tidak perlu tahu lebih dulu identitasku. Kecuali ibu benar-benar mau ketemuan berdua di suatu tempat. Selebihnya, seperti biasa, SMS jorok tak lupa kulayangkan. Seperti keinginanku untuk mengulum itilnya, menjilati dari ujung kaki sampai ke memeknya dan bahkan keinginan untuk menjilati anusnya.

    "Waktu Pak Rahman (nama ayahku) masih ada, apakah beliau suka njilatin memek dan anus ibu? Wah seneng banget tuh Pak Rahman tiap malam bisa ngentotin ibu. Saya kepengen banget. Sungguh." Tulisku dalam SMS yang kukirimkan kepadanya.

    Jawabnya, "Pernah sih. Tapi tidak sering dan tidak sampai ke anus. Jadi merinding nih. Kayaknya enak banget kalau itil ibu dikulum,"

    Aku tak menyangka respon ibu begitu vulgar. Bahkan dari beberapa pertanyaan yang kuajukan, ia dengan suka rela memberi tahu soal warna daster yang tengah dipakainya untuk tidur. Juga soal kebiasaannya tidak bercelana dalam dan kutang. "Saya nggak betah tidur pakai kutang dan celana dalam. Malah penginnya sih telanjang bulat. Tetapi takut ada kecoa masuk ke nonok saya," balasnya pada salah satu SMS balasan yang dikirim.

    Aku tersenyum membacanya. Ia juga bercerita terus terang tentang ukuran kutangnya yang besar yang disesuaikan dengan ukuran payudaranya. Termasuk kebiasaannya melepas jilbab dan busana muslimah saat sedang di Nikenah. Kalau soal itu sih aku sudah tahu, ujarku membathin.

    Kontak melalui SMS yang dilakukan layaknya pasangan kekasih yang sedang bermesraan tetapi lebih menjurus ke soal seks. Bahkan ketika ia meminta bisa bicara tewat telepon dan tidak dengan SMS tetapi aku tetap menolak, ia menginformasikan bahwa saat itu ia tengah memasukkan jarinya ke lubang memeknya karena udah gatel dan pengen dientot. Aku jadi makin penasaran dan sekaligus yakin ibuku tidak berbeda dengan Bu Niken yang berjilbab rapat tetapi membiarkan memeknya diobok-obok laki-laki yang bukan muhrimnya.

    Kalau tidak salah di hari yang ke delapan, setelah seminggu tak putus-putus ber SMS-ria, selama seharian aku tidak melakukan kontak. Gara-garanya harus mengantar Bu Niken mengisi pengajian di suatu kota. Aku pulang jam delapan malam dan karena kecapaian langsung tertidur. Tetapi jam 01.00 malam, HP khusus yang biasa kupakai kontak dengan ibuku bergetar. Ternyata telepon dari nomor ibu hingga kubiarkan tak kuangkat seperti kebiasaanku.

    Rupanya, ia mengirim beberapa SMS tapi tak segera kubalas hingga akhirnya telepon. "Tumben malam ini tidak SMS. Padahal saya pengen banget lho dientot sama kamu," katanya dalam salah satu SMS.

    "Oh iya maaf saya lagi sama temen-temen di luar kota. Padahal saya juga pengen lho. Apalagi kalau ibu benar-benar mau ketemu dengan saya," balasku.

    Melalui SMS ibu membalas, "Ah paling lagi cari pelacur ya buat nyalurin keinginan kamu ngentot. Nggak mau ah takut ketularan penyakit kotor,"

    Aku jadi ketawa sendiri membaca SMS ibuku itu. Semakin merasa percaya diri, sebuah SMS kembali kukirimkan. "Ih saya kan masih bujangan ting-ting. Tetapi saya dengan senang hati melepaskan keperjakaanku kalau imbalannya memek ibu. Sungguh lho bu,"

    Keesokan harinya, SMS dari ibu mengarah ke terjadinya pertemuan. Setelah terus menerus ber SMS sejak pukul 10 malam, ia menanyakan soal tempat dan waktunya untuk ketemuan. Aku yang sempat ragu akhirnya mengirim SMS berbunyi, "Kalau malam ini gimana? Di pekarangan belakang Nikenah ibu kan rimbun dan ada pohon mangga. Ibu buka saja pintu pagarnya nanti saya masuk," tulisku melalui SMS.

    Ternyata ibuku setuju. Ia juga bersedia untuk tidak memakai kutang dan celana dalam. Bahkan ia meminta kepastianku untuk telah berada di pintu pagar saat ia hendak membuka. Katanya ia takut kalau harus menunggu terlalu lama sebab sudah tengah malam. Tetapi setelah kusepakati bahwa akan berada di pintu pagar dalam waktu sekitar 10 menit, aku menjadi bingung sendiri.

    Benar setelah 10 menit kudengar ibu membuka pintu kamar dan keluar. Ia menuju ke arah dapur lalu membuka pintu belakang Nikenah yang menghadap ke arah pekarangan. Sebelum keluar ibu juga mematikan lampu dapur dan lampu pekarangan hingga gelap gulita. Ibu benar-benar nekad dan mengira pemuda pengagum gelapnya adalah orang lain. Padahal ia sebenarnya sangat penakut.

    Membayangkan ibu tengah berada dalam puncak hasrat biologisnya, nafsuku ikut menggelegak. Apalagi sudah tiga hari Bu Niken tidak mengajakku. Kupikir, kalau ada pemuda seusiaku yang berani nekad mengisengi, ibu pasti tidak menolak. Aku jadi nekad keluar dari kamarku dan menyusul ibu. Tetapi tidak masuk ke pekarangan dan hanya menunggu di dapur.

    Cukup lama aku menunggu. Kuyakin ibu sangat kesal karena harus menahan rasa takut dan menunggu. HP khususku yang kukantongi di celana kolor yang kupakai berkali-kali bergetar. Rupanya panggilan dari nomor telepon seluler ibuku.

    Setelah hampir setengah jam, ibu akhirnya masuk dan menjadi sangat kaget karena melihatku menunggu di dapur. "Ibu dari pekarangan dan membuka pagar nungguin siapa?"

    Ia terlihat bingung. "Ee.. ee.. ah nggak. Ibu keluar saja cari angin. Kamu kok belum tidur," ujarnya.

    Saat ibu tengah menutup pintu belakang Nikenah, segera kudekati dan kupeluk tubuhnya dari belakang. Ia benar-benar memenuhi janjinya untuk tidak berpakaian dalam. Aku tahu setelah berhasil meremas payudaranya dan pantat besarnya yang liat merapat diselangkanganku. "Ibu tadi menunggu pemuda yang kirim SMS?" Kataku sambil memeluk erat dan berbisik di telinganya.

    "Eh Ton.. jangan begini.. aku ibumu. Kok kamu tahu soal SMS itu," katanya sambil meronta dan berusaha lepas dari pelukanku.

    Tetapi tidak segera kujawab dan tidak kulepaskan pelukanku. Bahkan sambil menciumi tengkuknya, bukan cuma teteknya yang kuremas-remas. Tangan kananku meliar ke pahanya dan menyelusup ke balik daster pendek yang dipakainya menuju ke selangkangannya. Memek ibu yang membusung rupanya baru ducukur jembutnya. Terasa agak kasar karena adanya rambut-rambut yang baru tumbuh. Aku mengusap-usapnya dengan gemas.

    Ibu makin memberontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukanku. Saat itu kukatakan, bahwa sebenarnya aku yang mengirim SMS-SMS itu tetapi dari nomor HP yang lain. Juga kukatakan bahwa keinginanku untuk menyetubuhi ibu muncul setelah melihat film-film porno koleksinya serta adanya dua kontol karet yang kutemukan di lemari kamarnya.

    Ibu makin kaget mendengar penuturanku. Perlawanananya agak mengendur. "Ta.. tapi ini tidak boleh Ton, karena kamu anak ibu,"

    Aku tak peduli. Bahkan setelah posisi ibu berbalik menghadap ke arahku, makin kutingkatkan aksiku. Kubenamkan wajahku ke busungan buah dadanya dari luar daster yang dipakainya. Salah satu jari tanganku yang menjelajah di memeknya, juga telah berhasil menyelinap masuk menerobos lubang nikmatnya. Ibu mendesah dan menggelinjang serta masih mencoba memberontak. Tetapi sudah tidak terlalu keras upayanya.

    "Bu boleh ya Ton melihat dan menjilati memek ibu. Juga mengulum itil ibu," kataku sambil terus membenamkan wajahku di kehangatan buah dadanya yang besar dan empuk. Ah tak sabar rasanya untuk dapat mengulum puting-putingnya.

    Bagian dalam memek ibu sudah membasah. "Ee.. ta.. tapi janji ya Ton. Hanya melihat dan menjilat saja. Jangan lebih,"

    Yyessss! Berhasil, hatiku bersorak. Aku langsung berjongkok dan kusingkap daster tipis yang panjangnya tak mencapai lutut. Paha ibu yang membulat padat benar-benar masih mulus. Sebenarnya aku sudah sangat sering melihat ibu telanjang saat mandi. Karena aku sering mengintipnya.

    Tetapi meraba dan mengusap kehalusan pahanya baru kali ini kesempatan itu kudapatkan. Mulai dari dengkul-dengkulnya, paha mulusnya kuciumi dan sambil kujilati. Lalu naik ke atas sambil menyapu-nyapukan lidahku diantara kedua pahanya. Ibu tergetar dan mendesah. Bahkan saat jilatanku semakin naik mendekati pangkal pahanya, ia renggangkan kedua kakinya. Seakan memberi kesempatan agar jilatan lidahku sampai ke bagian dalam pahanya.

    Namun baru saja ujung lidahku menyentuh memeknya ia memekik keras dan tertahan. Kedua kakinya kembali mengempit dan kepalaku diusapnya. "Ja... jangan di sini Ton. Di sofa saja ya," ajaknya.

    Saat berjalan menuju sofa yang ada di ruang tengah, kupandangi goyangan pantat besar ibu. Aku jadi gemas dan makin bernafsu. Kuraba busungan pantatnya dan kuremas. "Ih... tanganmu jahil banget sih," katanya. Tapi sepertinya ia tidak marah.

    "Soalnya pantat ibu mantep banget dan merangsang,"

    "Kamu sudah pengalaman dengan perempuan ya?"

    "Ee.. ee.. enggak bu. Sungguh,"

    "Bener? Kalau begitu nanti punyamu jangan dimasukkan biar tetap perjaka," ujar ibu menambahkan.

    Setelah duduk di kursi sofa ibu membuka lebar pahanya. Dasternya disingkapnya tinggi-tinggi hingga samar-samar kulihat kemaluannya yang membukit. Merasa kurang puas aku beranjak menekan saklar lampu penerang untuk penerangan maksimal. Kali kini aku benar-benar bisa melihat memek ibu secara sempurna.

    Rupanya ibu juga tertarik untuk mengetahu ukuran kontolku. Sebab saat aku mendekat, kulihat ia melirik bagian yang menonjol di depan pada celana kolor yang kupakai. Aku memang tidak memakai celana dalam di balik celana kolor dari bahan kaos yang kukenakan. Hingga setelah bediri di hadapannya, sebelum berjongkok memandangi bagian paling merangsang milik ibuku, terlebih dulu kulepaskan celana kolorku.

    Penisku lansung mengacung maksimal setelah terbebas dari celana kolor yang kupakai. Ibu tampak kaget. Mungkin karena ukuran kontolku di luar perkiraannya. Penisku memang lumayan gede. Kekar dan panjang meski tubuhku tidak atletis. Buktinya Bu Niken yang vaginanya sudah nggedebleh dan lubangnya sudah menganga lebar bisa merasakan nikmatnya entotanku. Aku yakin, ibu juga bakal ketagihan kalau sudah merasakan.

    Tetapi mungkin karena masih merasa malu kalau harus mengagumi rudal anak kandungnya, ibu langsung menunduk. Membiarkan aku berjongkok tepat di depan kangkangan kedua pahanya. Sepintas kulihat senyuman ibu. Ah kuyakin itu karena ia suka dengan ukuran kontolku.

    Memek ibu benar-benar tebal dan tembem. Seperti kebanyakan wanita seusianya, bibir luar kemaluannya berkerut-kerut. Coklat kehitaman. Berbeda dengan warna kulit di sekitarnya yang kuning langsat. Tetapi lubangnya tidak semenganga memek Bu Niken. Juga tidak ada jengger ayam yang menggelambir keluar.

    Kerut-kerut pada bibir luar memeknya mungkin hasil kerjaan kontol bapakku yang sering menyetubuhinya semasa hidup. Atau boleh jadi malah akibat sogokan kontol-kontol palsu yang belakangan suka dipakai ibu untuk bermasturbasi. Ingin rasanya segera kutancapkan kontolku ke lubang nikmat yang pernah menjadi pintu keluar diriku semasa dilahirkan. Nafsuku benar-benar memuncak melihat memek ibu dari jarak sangat dekat.

    Tetapi ibu sudah berpesan bahwa aku hanya boleh melihat dan menjilatnya. Tidak boleh memasukkan kontolku ke lubang nikmatnya. Agar tidak ditolak oleh ibu dan diperbolehkan menyetubuhinya, aku harus memakai kiat. Sebab meski kutahu ibu juga sudah bernafsu, bagaimana pun aku adalah anak yang dilahirkannya hingga mungkin masih merasa canggung.

    Ibu mendesah saat tanganku mulai mengusap permukaan memeknya yang membukit. Saat usapanku mulai mulai menyibak bibir kemaluannya, tubuh ibu menggelinjang. Bahkan kulihat ia mulai meremasi sendiri susunya. Tetapi sambil memejamkan mata. Rupanya keenakan, hanya tetap masih merasa malu.

    Untuk melihat bagian dalam memeknya yang berwarna kemerahan, kugunakan kedua tanganku untuk membuka kedua bibir tebal kemaluannya. Saat itulah , di antara celah dalam memeknya di ujung bagian atas kulihat itil ibuku. Daging mungil itu tampak berkilat dan menonjol berwarna pink. Aku jadi tambah bernafsu.

    Kini bukan lagi kedua tanganku yang kupakai mengobok-obok memek ibuku. Tetapi langsung kukecup dan kulumat bibir memeknya dengan mulutku. Diikuti dengan sapuan lidahku, masuk ke bagian dalam liang vaginanya. Tubuh ibu jadi tergetar. Kudengar ia mendesah dan remasan pada payudaranya semakin menjadi.

    Terlebih saat itilnya mulai kujilat dan kucerucupi. Ia tak lagi mampu menahan erangan dan suara desahannya. Pinggulnya mulai sedikit bergoyang mengikuti irama sapuan dan jilatanku di bagian dalam memeknya. "Ooouuuhhhh.... aahh.... sshhh... eehh.... ssshhh... aahhh...shhhh... aaaakkkhhhh," lenguhnya penuh nikmat.

    Menurut Bu Niken selain itil, antara lubang dubur dan lubang memek memek juga bagian yang sangat peka pada wanita. Karena di lubang dubur banyak sekali simpul saraf yang peka bila dirangsang. Maka bila dijilat dari celah memek secara tidak terputus hingga anus, dijamin wanita bakal kelojotan.

    Saat kupraktekkan, ternyata petuah dari guru ngaji ibuku yang belakangan jadi ustazah yang mulai populer itu benar-benar terbukti. Ibuku makin kelojotan dan menjadi tidak canggung untuk mengekspresikan kenikmatan yang didapatkan. "Aahh.. aahhh... aahhhh... ssh... enakhh Ton. Ya.. ya enak banget... ssshhh ....aahhh... sshhhh ....aaahhhh,"

    Aku tahu lidahku telah hampir mencapai lubang duburnya. tetapi aku tak peduli. Terus saja lidahku melata, menyapu sampai ke lubang lain di bawah lubang memeknya itu. Kali ini ibu memekik. Tetapi jelas bukan karena sakit. Pasti ia merasa geli campur nikmat seperti yang dikatakan Bu Niken padaku. Dari lubang memek ibu keluar lendir yang terasa asin di mulutku. Lendir itu meleleh ke bawah melewati duburnya yang tengah kujilat.

    Dari lendir yang telah mulai keluar, aku tahu ibu sudah sangat terangsang. Kalau kuteruskan jilatanku di sekitar lubang anusnya, kuyakin dalam waktu yang tidak terlalu lama ia bakal mendapatkan puncak kenikmatannya. Maka kuputuskan untuk tidak meneruskannya. Kalau ia sampai meraih orgasmenya peluangku untuk bisa ngentot dengannya bisa batal, ujarku membathin.

    Aku bangkit. Di hadapan ibu yang masih duduk mengangkang menyandar di kursi sofa, kubiarkan kontolku tegak mengacung. Tatap mata ibu terlihat mulai terang-terangan terpaku pada batang zakarku yang membonggol besar. Mmberiku isyarat bahwa wanita yang dari rahimnya telah melahirkanku itu sudah tidak dapat lagi mengontrol dirinya akibat terangsang. Namun aku tidak ingin berlaku gegabah.

    Meski aku sudah sangat ingin menancapkan kontolku di lubang memeknya yang sudah menganga sempurna, bisa saja ibu berubah pikiran. Maka yang selanjutnya kulakukan hanyalah membelai teteknya. Meremas dan memilin-milin putingnya dengan jari-jariku serta kujilat dan kuhisap sepenuh nikmat. Ibu melenguh dan mendesah.

    Sambil terus mengulum puting teteknya yang terasa mengeras di mulutku, tanganku membelai dan meremas-remas teteknya yang lain. Lalu menjalar turun mengusap perutnya yang agak membukit dan ke busungan memeknya yang tembem. Kembali ibu menggelinjang dan memekik tertahan ketika ujung jari tengah tanganku kuselipkan ke celah lubang memeknya.

    Ternyata bukan hanya basah tetapi sudah benar-benar banjir. Kalau Bu Niken, pasti sudah merengek-rengek meminta segera kutancapkan kontolku di liang vaginanya. Dan hampir dipastikan, dalam beberapa kali sogokan guru mengaji ibu-ibu di kampungku itu akan mengerang-erang. Lalu kata-kata jorok keluar dari mulutnya sampai ia mendapatkan puncak kenikmatannya.

    Dari ekspresinya, aku yakin ibu juga sudah sangat ingin dientot. Matanya terlihat sayu saat jari-jari tanganku terus mengobok-obok lubang nikmatnya. Hanya tidak mungkin untuk memulai meminta karena telah mengultimatuku untuk tidak sampai melakukan persetubuhan. Makanya saat ia mulai meraih batang kontolku dan menggenggamnya, rasanya tinggal selangkah lagi untuk dapat merasakan nikmatnya memek ibuku.

    "Aaaakkhhhh.... sshhhh.... enak banget Bu. Iya terus .. aahhh... aahhh... ssshhhh... aaaaahhh," ujarku sambil mendekatkan wajahku di telinganya,"

    Bahkan dengan nekad kujilati telinga ibu sampai ke lubangnya dengan menjulur-julurkan lidahku. Pengalaman ini juga kuperoleh dari Bu Niken. Menurutnya, wanita sangat suka dijilati di semua bagian tubuhnya karena memberi kenikmatan dan sensasi luar biasa.

    Hasilnya jauh di luar perkiraanku. Ibuku tak sekedar menyukai. Tetapi ia membalasanya mencium dan mengulum bibirku dengan ganasnya. Ia memeluk erat sambil terus memagut dan membiarkan kontolku menempel di memeknya. Tidak sampai masuk memang karena ujung penisku tertahan di bibir luar kemaluannya. Namun tanpa diminta, ibu akhirnya kembali meraih batang kontolku dan mengarahkan ujungnya ke lubang memeknya.

    "Sssshhhh... aaahhhh ibu nggak tahan Ton. Entot dan puaskan ibu," ajaknya.

    Akhirnya, sleeseepp .. bleeessss! Sekali tekan amblas batang penisku di kehangatan lubang kemaluan ibuku. Lubang memek ibu sudah longgar, basah di bagian dalam. Aku agak kecewa karena kenikmatan yang bakal kudapatkan pasti kurang maksimal.

    Benar saja karena kelewat longgar dan banyaknya cairan di liang sanggamanya, saat batang kontolku mulai mengocok keluar masuk mengeluarkan bunyi yang aneh. Ceplook... plop.. ploop... ploop.. ploop. Tetapi ternyata aku salah menduga. Beberapa saat setelah sogokan kontolku makin kupercepat dan ibu mulai menggerak-gerakkan pinggulnya, dinding bagian dalam memeknya seperti berkedut. Otot-ototnya seperti bergerak menjepit dan kian mencengkeram.

    Aku jadi makin bernafsu. Sambil terus menyogoki memeknya, mulut ibu kulumat dengan rakus. Sesekali lidahnya kuhisap-hisap penuh nikmat. Reaksi ibuku tak kalah seru. Pantatnya mulai bergoyang. Memutar dan meliuk-liuk. Lidahnya menjulur masuk ke mulutku dan beradu dengan lidahku. Sepertinya ia sudah tidak peduli lagi bahwa yang tengah menyetubuhinya adalah anak kandungnya.

    Seiring dengan goyangan pantat besar ibu yang semakin hot, ada sesuatu yang kurasakan di bagian dalam memek ibu. Seperti berkerut, memek yang sebelumnya terasa nggedebleh dan longgar tiba-tiba menyempit. Dinding-dinding vagina ibu seperti seperti hidup. Batang kontolku seakan diurut dan diperahnya. Benar-benar nikmat tiada tara.

    "Aaauuwwhhh... aaooohhh me... memek ibu kok jadi peret? Ahh.. sshh.... aahhhh enak banget bu.. aahh ... aakkkhhhhh,"
    
    "Ohhhh...iya Ton...kontolmu juga enak Ton...oh ...tekan semua kontolmu Ton ahhh..Ton..terus Ton..oh..memekku makin gatel..."
    "Ohhh..ohhh..iya buu...oh bu...kontolku keenakan bu...oh..."
    "Oh Ton...aaahhh...memek ibu juga keenakan...oh...tekan sampai dalam nak Ton...tekan biar sampai ke rahim ibuu Ton...oh...Tonn..entoti ibu,..."
    "Oh bu enakknya ngentotin memekkmu...oh bu...iya bu kudalemin lagi bu...oh..."
    "Oh iya Ton..oh dalemin sampai mentok...oh dalemin sampai rahim ibu..."
    "Oh bu...kenapa harus sampai ke rahim bu...
    "Oh...biar naanti pejuhmu masuk rahim ibu...ahhh...dalemin lagi nak...
    "Oh bu...oh bu...jadi ibu pengen kuhamili bu....oh buuu...??
    "iya..oh iya...entoti ibu sampai hamil...oh..hamilin ibu...entotin aja sampai hamilll..."
    "Oh bu..iya bu...akan kuhamili kau bu..oh...kubuntingi kau bu...oh pejuhku lagi banyak bu...ibu akan hamilll...mau iya bu.."
    "Ohhh..ohhh...kelauarin semua manimu dalam memek ibu...keluarin sebanyak-banyaknya dalam rahim ibu nak...biar ibu hamil...oh buntingi ibu..ibu pengen dibuntingi nak...ohhh.."
    

    Gairahku kian memuncak dan tak terbendung. Ada yang terasa sangat mendesak untuk ditumpahkan di antara kenikmatan yang semakin melambung. Dan rupanya, empotan memek ibu yang semakin menggila seiring dengan goyangan dan putaran pantatnya juga bagian dari tahapan menuju kilmaks. Sebab sesaat setelah itu ibu merubah posisi kedua kakinya yang sebelumnya mengangkang lebar. Dengan masih memutar pinggul dan pantatnya, kurasakan kedua kaki ibu membelit menyilang di pinggangku. Kontolku jadi melesak masuk lebih dalam di lubang memek ibu karena ditekan sebegitu rupa. Dengus nafasnya tampak semakin memburu.

    Puncaknya ibu memeluk erat tubuhku sambil mengangkat tinggi-tinggi bagian bawah tubuhnya. Jepitan dan empotan memeknya juga semakin menggila. Berbarengan dengan erangan nikmat ibu, aku tak mampu lagi menahan jebolnya lahar panas yang menyembur dari ujung penisku. "Oohh... aaoookhhh ibu dapat Ton... aahhh.... akkkhhhh... ssshhhhh ..... akkkkhhhhhh,"

    "Sa... ssa.. saya juga bu... aakkkhhh..... aakkkhhhhh...aku keluarin semua bu..,"
    "iya...nak ahh..kelarin dalam rahimku....oh hamilin ibu...oh bikin ibu bnting nak..."

    Cukup banyak air maniku memancar di rahim ibu. Karena ibu seperti kehabisan nafas saat tubuhku ambruk menindih tubuhnya, aku langsung menggelosoh turun dari sofa dan terbaring di karpet.

Senin, 18 Februari 2013


Anakku Menikahi Ibunya (17)

Keringat ditubuh kami bercucuran dengan derasnya tanda lama dan kerasnya perjuangan kami dalam bersetubuh, mereguk samudra kenikmatan bersama. Kini aku hapal dari pengalaman, bahwa saat ternikmat bagi Roni adalah saat vaginaku mengemut batang kejantanannya.
Karena itu ketika aku mengalami orgasme lagi kutarik pantat Roni kuat kuat, dan kuangkat pantatku tinggi tinggi, dengan bertumpu pada kakiku kuputar sekuat tenaga pantatku, oughhh.... Ronnn.... aku.....akhh... nikmat” aku mengalami orgasme ku yang keempat, tapi kali ini sambil menikamti orgasmeku, aku terus memutar pantatku, tak kubiarkan batang kemaluan Roni beristirahat.
“Hegg... Hemmmm....” Roni menggeram, tubuhnya mengejang kaku, tapi dengan kuatnya dia menarik pantatnya sedikit karena aku memegannya kuat-kuat, lalu langsung menekannya lagi sehingga vagina ku kembali dipompanya.
Dua tiga kali dia melakukannya, dan aku yang sedang terbadai oleh orgasme yang pertama tersentak keajaiban seperti tadi kembali terjadi lagi, aku memekik “Roooonn... okh... ak...akhh..” saat itulah kurasakan tembakjan yang kuat menyentuh rahimku, sehingga seakan terpukul oleh semburan air mani Roni.
Kini bukan hanya aku yang menarik pantatnya kuat-kuat, tapi tangan Ronipun menarik pantatku kearahnya. Kami sama-sama menikmati gelonmabang orgasme yang seakan-akan tidak ada putus-putusnya. Lalu ahirnya Roni roboh menindih tubuhku.
Aku tidak tahu berapa kali aku mengalami orgasme, dalam persetubuhan pertama kami ini, yang jelas ingatan kotor bahwa yang tengah menyetubuhiku adalah anakku sendiri merupakan salah satu kontributor bagi orgasme yang kuraih.
Sekarang seluruh siklus telah lengkap, air mani anakku telah tumpah kedalam rahim yang sama dengan saat dia dikandung, rahimku telah menjadi tempat penampungan air mani dua generasi laki-laki dalam hidupku, suamiku yang pertama dan anak kandungku sendiri. Aku sendiri melakukannya tanpa rasa bersalah atau menyesal. Yang ada hanya keletihan saja.
Selebihnya dari perbuatan kami adalah telah sempurnanya pernikahan kami yang ditandai dengan bersetubuhnya kami. Sejak kini aku bukan ibunya yang normal. Saya sekarang adalah seorang wanita, seorang istri. Roni telah menyatukan perbedaan antara seorang istri dan seorang ibu.
Seorang istri akan melakukan segalanya bagi seorang laki-laki (yang jadi suaminya) seperti halnya seorang ibu akan melakukan segalanya bagi seorang laki-laki (yang jadi anknya) bedanya seorang ibu tidak akan memberikan vaginanya untuk dinikmati dan sekaligus menjadi sarana berkembang biak bagi laki-laki yang jadi anaknya.

Tapi hari ini sang anak telah menyetubuhi ibunya, dan ibunya mau tidak mau jadi istrinya, menikah ataupun tidak menikah. Aku beruntung karena aku menjadi istrinya yang dinikahinya.
Itu sebabnya aku menghormati Roni, karena dia membuat saya, ibunya, menjadi istrinya lewat upacara pernikahn yang resmi sebelum menikmati vaginaku. Jika dia hanya sekedar ingin menikmati vaginaku, dia bisa mengimingimingi aku uang sehingga aku jadi pelacur bagi anakku, atau dia memperkosaku, cara lainnya adalah dia menggodaku sehingga aku menyerah disetubuhinya tanpa menikahi aku.
Jadi sekarang kami syah bersetubuh, karena aku adalah istrinya. Dengan pikiran-pikiran itu aku tergolek lemas akibat persetubuhan pertama kami dimalam pengantin ini. Roni bangkit dari posisinya menindihku sehingga batang penisnya yang lemas keluar dari vaginaku, keluar dari ikatn incest kami.
Kurasakan Roni berbaring miring menghadapku disebelah kananku dan bertanya “apa ibu menyukai persetubuhan kita?”. Aku tertegun, apa yang bisa kukatakan?, anak kandungku sendiri menyetubuhiku atas nama pernikahan kami, lalu kini dia bertanya apakah aku menyukai persetubuhan kami.
Aku tidak tahu apakah aku harus jadi istrinya sepenuhnya, kalau aku jadi istrinya sepenuhnya maka aku pasti akan menjawab “iya”, atau aku harus mengesankan pada Roni bahwa aku masih tetap ibunya, sehingga aku tidak menjawab apa-apa.
Walaupun kami telah bersetubuh, dan melanggar hubungan antara ibu dan anak, namun naluri keibuan saya masih tetap tidak menerimanya sebagai suamiku, aku mungkin telah menerima Roni sebagai kekasihku, seorang kekasih ibu, tapi bukan sebagai suami ibu.
Karena itu aku tidak menjawab karena rasa malu dari naluri keibuanku, tapi mengikuti naluri kewanitaanku maka aku memiringkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan, lalu dengan serta merta mencium bibirnya sekilas dan kemudian menyurukkan wajahku didadanya, sambil mengeluarkan suara aleman “hemm... kamu...”.
Walaupun aku merasa bimbang harus berbuat atau berkata bagaimana, tapi satu fakta tidak terbantahkan bahwa aku mengalami orgasme berkali-kali, sedangkan air mani anakku yang berpadu dengan air nikmatku telah menetes dari baginaku menyusuri sepanjang pahaku.
Dalam keadaan air nikmat kami yang berpadu dan menetes dipahaku itulah aku tertidur kelelahan, semtara air kenikmatan itu mulai mengalir kebawah diantar kedua kakiku. Aku tidur dengan sebuah senyum diwajahku, senyum kepuasan.
Entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena rasa nikmat di vaginaku, sekilas aku melihat jam didinding, waktu menunjukkan pukul tiga, pasti dinihari, tapi selanjutnya gelenjar kenikmatan yang sangat melanda tubuhku kurasakan klitorisku dijilati dan disedot-sedot oleh bibir, ‘pasti bibir Roni’ pikirku, dan aku kembali menghanyutkan diri dalam kenikmatan malam pengantin.

Anakku Menikahi Ibunya (16)


“Ughhhh.... vaginamu benar-benar seret seperti perawan...” suara Roni terdengan bergetar, dia berkata sambil sedikit menarik batang penisnya, lalu mulai mendorongnya lagi. Bless... kepala penisnya mulai masuk, kugoyangkan pantatku sedikit agar vaginaku semakin lebar terbuka. Dengan sedikit susah, ahirnya kali ketiga Roni mendorong, maka bless... penis itu sudah masuk seluruhnya, aku tergeliat merasakan ujung kepala penis Roni menyentuh cincin puranaku, “aaaakkkhhhh...” erangku tak tahan keluar tanpa terkendali lagi.

Tubuh Roni sendiri sepenuhnya menindih tubuhku, di diam beberapa saat, sama sekali tidak bergerak. Seluruh batang penisnya kini benar-benar telah berada dalam diriku. Kurasakan batang kejantanannya ditelan dinding vaginaku, dan aku menunggu kelanjutan aksinya. Rambut kemaluan Roni terasa menyentuh vaginaku, begitu juga bola kembarnya telah menyentuh bibir vagina ku

Saat itu kurasakan sebuah siklus antara aku dan Roni telah selesai. Dua puluh tiga tahun yang lalu aku membawanya kedunia ini melalui lubang yang sama, dengan posisi yang hampir sama, kaki terkangkang bertelekanan telapak kaki di pembaringan, lalu dua puluh tiga tahun kemudian, yaitu sekarang, anak yang keluar dari lubang vaginaku, telah menjadi seorang laki-laki yang memasukkan kejantanannya kedalam lubang yang sama dengan posisi yang nyaris sama.

Setelah terdiam beberapa saat Roni mulai mengeluar masukkan batang kemaluannya dalam lubang vaginaku. Ahirnya dia mulai menyetubuhi ibunya sendiri, dengan siapa dia menikah, dan kali ini dia melakukannya pada malam pengantin kami.

Perlahan Roni mulai meningkatkan kecepatan pompaannya, aku sedikit heran dengan kemahirannya bersetubuh, rasanya seperti orang yang telah berpengalaman, memompa perlahan, kemudian tiba-tiba pompaannya menjadi cepat, lalu perlahan lagi, betul-betul penuh variasi.

Tapi segala keheranan itu bahkan seluruh pikiran dan perasaanku dengan cepatnya menghilang dilanda kenikmatan yang tidak tertahankan, lima menit dia menyetubuhiku, tak tahan lagi aku meraih orgasmeku yang pertama.

“Aaakhhh... oughhh...” rengekku sambil memegang pantatnya dan menariknya kedalam diriku, sementara kakiku melingkari pantatnya. Pantatku sendiri naik memapak batang kemaluannya. Orgasme itu datang dengan dahsyatnya membuat kemaluanku berdenyut dengan kerasnya. “Oughh....” lenguh Roni, saat dia merasakan kemutan vaginaku. Dia diam sejenak seperti sedang menahan sesuatu.

Ketika tubuhku sudah mulai tenang Roni berbisik “bukan main vaginamu bu, benar-benar nikmat” katanya sambil kembali memompaku. Gelenjar rasa nikmat kembali meliputi tubuhku, aku benar-benar terangsang bukan saja oleh persetubuhan kami, tapi ingatan bahwa anakku sendiri yang menyetubuhiku benar-benar menaikkan gairahku



Hanya tujuh delapan menit kemudian kembali aku terkapar dalam orgasme yang sangat nikmat, sementara Roni sendiri dengan perkasanya masih terus memompaku, ‘aakhhh... Ronnnnn.... ough... nikmatttt... sekaliiii..” ceracauku saat aku meraih orgasme yang kedua tanpa malu-malu lagi.

Kembali Roni terdiam saat merasakan kemutan orgasmeku, tapi segera melanjutkan pompaannya dengan sangat perkasa aku mulai kewalahan menghadapi keperkasaan Roni, karena itu segera kukeluarkan jurus rahasiahku, kuputar-putar pantatku meyambut pompaan Roni.

“Aakhh...” lenguh Roni saat merasakan aksiku, kini kami sama-sama berjuang untuk secepatnya memuaskan pasangan bersetubuh kami, putaran dan geolan pantatku menggila mencoba meremas batang kemaluannya agar cepat mnyemburkan air maninya, begitu juga Roni semakin banyak variasinya dalam memompaku, kadang kurasakan seperti setengan memutar berlawanan arah dengan arah putaran pantatku.

“Ouhhggghhh.... aaakhhh...” lenguhanku semakin lama semakin sering keluar dari mulutku merasakan kenikmatan yang sangat dari persetubuhan ini. Kali ini aku tidak tahu berapa lama kami saling menumpahkan kemampuan untuk saling memuaskan, yang pasti aku kalah lagi.

“Heghh... aaakh..... oughhh.....Roniiiiii....aakhhh...” erangan yang semakin keras keluar dari mulutku, saat aku mengalami orgasme yang ketiga kalinya. Kemutan vagina ku terasa semakin kuat, sampai Roni yang seperti biasa berdiam diri, tubuhnya menjadii gemetar menahan kenikmatan dari kemutan vaginaku. Dengan tubuh mengkilat karena keringat kami yang berpadu, kupagut lehernya dan kucupangsaat merasakan nikmatnya orgasme ini.

Belum lagi tubuhku tenang, Roni kembali memompaku dengan menggila, dan ajaibnya aku yang baru mengalami orgasme, bahkan belum selesai menikmati orgasme itu kembali merasakkan gelombang kenikmatan orgasme, “aaakkkkhhh... oughhhhh....” erangku, vaginaku seolah tidak sempat berhenti mengemut, belum selesai satu periode, sekarang langsung mengemut lagi.

Kali ini Roni terdiam dengan mata terpejam menahan kenikmatan yang diberikan oleh kemutan vaginaku, bahkan setelah gelombang orgasme ku berlalu dia masih terdiam dengan tubuh tegang.

“Bukan main nikmatnya vaginamu Sumini, ibuku..” katanya sambil mulai memompaku kembali. Kami kembali saling berlaga, dengan tidak menghiraukan rasa pegal ditubuhku, aku memutar dan mengoyangkan pantatku sejadi-jadinya untuk mengimbangi keperkasaan anakku sendiri yang tengah menyetubuhiku.

Kali ini pun aku tidak tahu berapa lama kami berlaga, yang jelas gesekan batang kemaluannya dengan dinding vaginaku, ditambah rambut kemaluannya yang menekan-nekan klitorisku, benar-benar membuat aku melambung dalam surga tingkat tujuh.

Minggu, 17 Februari 2013

Anakku Menikahi Ibunya (15)

Dia kemudian mencium BH diantara payu daraku, ciumannya menyusur kebawah sampai keperutku yang telanjang, semakin kebawah dan ciumannya mampir dipusarku, dan tiba-tiba dia menempelkan wajahnya diselangkanganku, dicium dan dibauinya selangkanganku dari balik celana dalam dengan hirupan yang sangat dalam berkali-kali.
Aku sungguh-sungguh merasa malu diperlakukan begitu. “Aku sudah bertahun-tahun bermimpi untuk melakukan ini kepada ibuku”. Aku terdiam tidak mampu mengatakan apa-apa. “Kau memiliki bau vagina yang harum, persis seperti yang kuharapkan” lanjutnya sambil mulai berusaha melepas celana dalamku.

Sesak napasku dibuatnya, batinku berperang antara naluri keibuanku yang menyuruh aku untuk menahannya agar tidak membuka celana dalamku, dengan naluri kewanitaanku yang sudah sangat kehausan dibelai kehangatan laki-laki. Lalu kesadaranku tumbuh bahwa kini aku sudah menikah dengannya, walaupun dia adalah anakku, karenanya dia memiliki hak penuh pada tubuhku ini.

Sebelum peperangan di batinku selesai, celana dalam itu telah jatuh dikakiku, dan tangannya meremas pinggul telanjangku, remasan yang diselingi elusan. Rasa malu membuat mataku tetap tertutup sementara aku menikmati cumbuannya.
Tangannya bergerak kesana kemari mengelus-elus dan meremas tubuhku yang telanjang, Roni kemudian menyentuh rambut kemaluanku dengan hidungnya dan membauinya dengan tarikan napas yang panjang, selesai itu dia berkata “Terima kasih telah menunjukkan kepadaku, kuil mu ini bu, kuil kelahiranku”. Aku menjawabnya dalam hati ‘selamat datang anakku’ meskipun aku hanya berkata dalam hati, tapi tak urung rasa malu semakin menggelepar didalam dada, malu yang bercampur dengan hasrat birahi.
Dia kemudian bangkit dengan cepat untuk membuka kaitan BH ku. Setiap satu kait terbuka membawa saya ke tingkat ekstasi seksual yang lebih tinggi. Ahirnya BH itu terlepas, dan aku telanjang bulat penuh rasa malu dihadapannya, dihadapan anakku, suami baruku. Akh… rasa malu dan gairah semakin membuncah.

“Terima kasih bu… untuk melihat buah dada ibu, dimana aku diberi makan dan dibesarkan” bisiknya. Gairah yang meledak dalam diriku membuat aku tidak mampu berkata apapun, meskipun hatiku berteriak ‘diamlah jangan banyak bicara, hisaplah segera puting buah dada ibumu ini yang sudah sangat tergang kekasih ibu’.

Seolah olah Roni mendengar teriakan hatiku, dia segera memasukan puting buah dadaku kemulutnya. Ketika itu aku telah berpikir menjadi istrinya, tiba-tiba dia menghisap putingku dengan cara yang sama seperti dulu, mulut yang menghisap adalah mulut yang sama, dulu dia menghisap untuk makan, sekarang dia menghisap untuk kesenangan, dulu yang menghisap anakku, sekarang suamiku. 

Setelah beberapa saat menghisap dan membelai, Roni menghentikan segala cumbuannya dan berdiri di depanku. Perlahan aku membuka mata ku untuk melihat anakku-suamiku melepaskan pakaiannya. Aku bisa melihat kemaluannya yang berontak ingin keluar dari kungkungannya.
Tak lama batang kemaluannya yang besar dan panjang, jauh melebihi besar dan panjang milik ayahnya, walaupun aku merasa sangat malu tapi aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari batang penis yang tampak sangat perkasa itu, sampai ahirnya dia bergerak dan memelukku.

Kami berpelukan pertama kali dalam keadaan telanjang. Terakhir kali saya memeluknya dalam keadaan telanjang adalah ketika Roni berusia enam tahun. Pelukan ini tidak akan pernah seperti memeluk anakku dulu.
Batang penisnya menekan selangkangan ku dan dadanya menghimpit payudaraku. Dia kemudian menuntun aku ke tempat tidur sambil mencium bibirku.

Jantungku berdebar dengan kencang saat Roni membaringkan tubuhku perlahan ke tempat tidur dan menindih diatas badanku. Aku perlahan-lahan menyesuaikan letak tubuhku di atas pembaringan bersamaan dengan kedua tangannya yang bergerak mengelus sepanjang lekuk tubuh ku.

'Ini dia, semuanya akan segera terjadi' pikirku.

Sementara di atas ranjang, Roni mulai mengelus payudaraku sambil menciumi bibir dan seluruh wajah,leher dan buah dadaku. Perelahan mataku kembali terpejam bukan saja karena malu tapi juga karena meresapi cumbuannya.
Roni kemudian merenggangkan kakiku sehingga aku terkangkang, dan memposisikan dirinya diantara kedua kakiku, kurasakan batang kemaluannya menyentuh celah selangkanganku lalu dia melakukan gerakan untuk menyesuaikan batang penisnya agar tepat terarah ke lubuk nikmatku..

Roni kemudian mengangkat selangkangannya, sementara tangan kanannya mengarahkan batang penisnya, maka dua jari tangan kirinya mulai mentibakkan bibir vaginaku. Sebuah sentakan listrik sejuta watt terasa mengaliri tubuhku saat dia menyibakan bibir vagina itu, lebih lagi saat batang penisnya mulai menyentuh bibir vagina.
Tak akan pernah kulupakan seumur hidup saat kurasakan pertama kalinya kepala penisnya mulai menyentuh lubang vaginaku, serasa seperti aku sedang diperawani, kepala penis anakku sendiri menyentuh lubang vagina ibunya, ingatan ini menjadikan sensasi kenikmatan yang kurasakan melambung semakin tinggi.
Segera setelah kepala penisnya menyentuh lubang vaginaku, Roni mulai mendorong dirinya jauh kedalam vaginaku, mula-mula terasa sangat seret, membuat aku tak tahan untuk mengerang saat batang penisnya mulai amblas “aaakkhhhh...pelannnnnnn ron  sakittttttttt

Anakku Menikahi Ibunya (14)

Ini adalah saat yang sangat mendebarkan untukku sampai tubuhku gemetaran, dulu dengan ayah Roni tidak ada upacara dan ritual seperti ini, karena suamiku beda anutan hidupnya, tapi sekarang saya harus merayakan malam pengantin kami dengan mengantarkan segelas susu kepada Roni anakku sendiri yang merupakan suamiku dengan disaksikan kerabat. Meskipun dari luar kamar pengantin tetap saja menimbulkan rasa malu yang sangat bagiku.
Ayahku perlahan-lahan mendorong saya ke kamar pengantin dan cepat-cepat menutup pintu di belakangku. Aku bisa mendengarnya ayah menguncinya dari luar serta mencabut anak kuncinya, aku juga tahu dalam kamar terdapat anak kunci yang sama, tapi dipegang Roni.
Kulihat sekeliling ruangan, dan terlihat Roni sedang duduk di tempat tidur yang baru dibeli ayah, tempat tidur itu dihiasi banyak bunga, mirip dengan tempat tidur pengantin sewaktu dengan ayahnya Roni.

Dengan ragu-ragu, perlahan aku berjalan kearahnya, dia bangkit memapakku dan kami bertemu ditengah kamar. Diambilnya gelas susu ditanganku, lalu diminumnya separuhnya, separuhnya lagi disodorkannya kebibirku menyuruh aku meminumnya. Perlahan aku minum susu yang gelasnya dipegang Roni.

Lalu dia berkata 'Terima kasih ibu! ". Aku kecewa dia memanggilku ibu. Kukatakan padanya “Saya istri anda sekarang, panggil aku Sumini” Roni menjawab sambil meletakjkan gelas dimeja “terima kasih namun anda tetap ibu saya”. “Lalu kenapa kamu menikahi saya? " kataku kecewa.

"Karena aku ingin menikahi ibuku ... aku ingin bercinta dengan ibuku” jawabnya sambil memandangku dengan mesra. Ini adalah hal yang sangat tabu dan kotor untuk didengar oleh ibu manapun. Tapi terus terang aku menjadi sangat terangsang mendengar kata-katanya.
Kupikir aku juga lebih ingin bercinta dengan Roni sebagai anakku, daripada sebagai suamiku. “Pernikahan kita hanya untuk menjadikan kita resmi sebagai suami istri di mata orang lain, tapi dalam rumah, aku akan tetap menghormati ibu sebagai ibuku, kuharap ibu juga tetap memperlakukan aku sebagai anakmu” lanjut Roni lagi.

Aku menyela “Jika kamu masih tetap anakku, lalu bagaimana aku bisa memperlakukan kamu sebagai suamiku?”. “Jangan memperlakukan aku sebagai suami, tapi perlakukan aku sebagai anak yang juga kekasihmu, seorang anak yang tergila-gila pada tubuhmu” jawab Roni.

Aku terkejut mendengarnya, tapi juga jelas bagiku kini bahwa dia ingin bercinta denganku sebagai ibunya lebih dari dia ingin bercinta denganku sebagai istrinya. Pernikahan ini hanya sebuah tindakan untuk menjaga masyarakat tenang. 

Kupikir lagi, apa yang dikatakan Roni adalah kejujurannya, mengingat dia sudah bernafsu kepada diriku selama bertahun-tahun, padahal ketika itu aku masih jadi ibunya, istri ayahnya.
Roni kemudian melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhku dan memelukku. Dia memeluk aku seperti itu berkali-kali sebelumnya tapi kali ini berbeda. Terasa seakan kekasihku lah yang memeluk aku.
Perlahan-lahan dia merapatkan tubuhnya kepadaku, dan menekankan selangkangannya ke selangkanganku, gelenjar kenikmatan mulai mengaliri tubuhku saat batang kemaluannya menempel di vaginaku, meski masih terhalang baju kami. Sepasang tangannya terulur memegang wajahku, dan menengadahkannya sehingga wajah kami berhadapan hampir bersentuhan.
Pandangannya lurus tertuju padaku, yang kubalas dengan tatapan pasrah, lalu dia menundukkan wajahnya dan pandangannya beralih kearah bibirku, perlahan bibirnya bergerak mengulum bibirku. Ciuman kali ini berbeda dengan sebelumnya, Roni yang merasa aku sudah mutlak jadi miliknya mengulum bibirku dengan lembut sekali.
Ciuman ini segera saja melambungkan aku kesurga, ciuman anakku sendiri mulut ke mulut dengan cara yang lembut. Kubalas kulumamnya dengan kelembutan juga, perlahan kelembutan itu berubah menjadi penuh gairah.
Ketika mulut kami terpisah, Roni melanjutkan ciumannya keseluruh wajahku, lalu leherku sementara tangannya mulai melepas kaitan baju di bahuku sehingga baju bagian atas mulai tanggal dari ku. Kututup mataku karena rasa malu mengingat ini adalah langkah permulaan Roni akan melihat diriku telanjang bulat seutuhnya.

Dia terus menciumi di leher saya dan perlahan-lahan ciumannya semakin ke bawah ke arah dadaku. Dicium dan disedotnya di sekeliling tepi payudaraku dan kemudian ciuman mengarah tepat di celah antara payudaraku, terasa bagian itu disedot bibirnya sementara lidahnya juga mulai menjilati area disana. Ini adalah pengalaman pertama yang dahsyat bagiku, sebelumnya aku tidak pernah dicumbu dengan cara begitu.
Dia kemudian mengurai ikatan baju bawahku, kini baju bawahku tertanggal dari tubuhku, membuat tubuh ini hanya tinggal memakai BH dan celana dalam, rasa malu kian menguat dalam hatiku, kucoba menggerakkan tangan menutupi ketelanjanganku, Roni rupanya menyadari rasa Maluku, karena dia segera menarikku semakin rapat ketubuhnya, sedangkan tangannya melemparkan baju bawahku jauh-jauh. Mataku terpejam semakin rapat menahan malu, mengingat karena tubuh yang tinggal memakai celana dalam dan BH ditatap dengan mata penuh napsu oleh anakku.