Ini adalah saat yang sangat mendebarkan untukku sampai tubuhku gemetaran, dulu dengan ayah Roni tidak ada upacara dan ritual seperti ini, karena suamiku beda anutan hidupnya, tapi sekarang saya harus merayakan malam pengantin kami dengan mengantarkan segelas susu kepada Roni anakku sendiri yang merupakan suamiku dengan disaksikan kerabat. Meskipun dari luar kamar pengantin tetap saja menimbulkan rasa malu yang sangat bagiku.
Ayahku perlahan-lahan mendorong saya ke kamar pengantin dan cepat-cepat menutup pintu di belakangku. Aku bisa mendengarnya ayah menguncinya dari luar serta mencabut anak kuncinya, aku juga tahu dalam kamar terdapat anak kunci yang sama, tapi dipegang Roni.
Kulihat sekeliling ruangan, dan terlihat Roni sedang duduk di tempat tidur yang baru dibeli ayah, tempat tidur itu dihiasi banyak bunga, mirip dengan tempat tidur pengantin sewaktu dengan ayahnya Roni.

Dengan ragu-ragu, perlahan aku berjalan kearahnya, dia bangkit memapakku dan kami bertemu ditengah kamar. Diambilnya gelas susu ditanganku, lalu diminumnya separuhnya, separuhnya lagi disodorkannya kebibirku menyuruh aku meminumnya. Perlahan aku minum susu yang gelasnya dipegang Roni.

Lalu dia berkata 'Terima kasih ibu! ". Aku kecewa dia memanggilku ibu. Kukatakan padanya “Saya istri anda sekarang, panggil aku Sumini” Roni menjawab sambil meletakjkan gelas dimeja “terima kasih namun anda tetap ibu saya”. “Lalu kenapa kamu menikahi saya? " kataku kecewa.

"Karena aku ingin menikahi ibuku ... aku ingin bercinta dengan ibuku” jawabnya sambil memandangku dengan mesra. Ini adalah hal yang sangat tabu dan kotor untuk didengar oleh ibu manapun. Tapi terus terang aku menjadi sangat terangsang mendengar kata-katanya.
Kupikir aku juga lebih ingin bercinta dengan Roni sebagai anakku, daripada sebagai suamiku. “Pernikahan kita hanya untuk menjadikan kita resmi sebagai suami istri di mata orang lain, tapi dalam rumah, aku akan tetap menghormati ibu sebagai ibuku, kuharap ibu juga tetap memperlakukan aku sebagai anakmu” lanjut Roni lagi.

Aku menyela “Jika kamu masih tetap anakku, lalu bagaimana aku bisa memperlakukan kamu sebagai suamiku?”. “Jangan memperlakukan aku sebagai suami, tapi perlakukan aku sebagai anak yang juga kekasihmu, seorang anak yang tergila-gila pada tubuhmu” jawab Roni.

Aku terkejut mendengarnya, tapi juga jelas bagiku kini bahwa dia ingin bercinta denganku sebagai ibunya lebih dari dia ingin bercinta denganku sebagai istrinya. Pernikahan ini hanya sebuah tindakan untuk menjaga masyarakat tenang. 

Kupikir lagi, apa yang dikatakan Roni adalah kejujurannya, mengingat dia sudah bernafsu kepada diriku selama bertahun-tahun, padahal ketika itu aku masih jadi ibunya, istri ayahnya.
Roni kemudian melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhku dan memelukku. Dia memeluk aku seperti itu berkali-kali sebelumnya tapi kali ini berbeda. Terasa seakan kekasihku lah yang memeluk aku.
Perlahan-lahan dia merapatkan tubuhnya kepadaku, dan menekankan selangkangannya ke selangkanganku, gelenjar kenikmatan mulai mengaliri tubuhku saat batang kemaluannya menempel di vaginaku, meski masih terhalang baju kami. Sepasang tangannya terulur memegang wajahku, dan menengadahkannya sehingga wajah kami berhadapan hampir bersentuhan.
Pandangannya lurus tertuju padaku, yang kubalas dengan tatapan pasrah, lalu dia menundukkan wajahnya dan pandangannya beralih kearah bibirku, perlahan bibirnya bergerak mengulum bibirku. Ciuman kali ini berbeda dengan sebelumnya, Roni yang merasa aku sudah mutlak jadi miliknya mengulum bibirku dengan lembut sekali.
Ciuman ini segera saja melambungkan aku kesurga, ciuman anakku sendiri mulut ke mulut dengan cara yang lembut. Kubalas kulumamnya dengan kelembutan juga, perlahan kelembutan itu berubah menjadi penuh gairah.
Ketika mulut kami terpisah, Roni melanjutkan ciumannya keseluruh wajahku, lalu leherku sementara tangannya mulai melepas kaitan baju di bahuku sehingga baju bagian atas mulai tanggal dari ku. Kututup mataku karena rasa malu mengingat ini adalah langkah permulaan Roni akan melihat diriku telanjang bulat seutuhnya.

Dia terus menciumi di leher saya dan perlahan-lahan ciumannya semakin ke bawah ke arah dadaku. Dicium dan disedotnya di sekeliling tepi payudaraku dan kemudian ciuman mengarah tepat di celah antara payudaraku, terasa bagian itu disedot bibirnya sementara lidahnya juga mulai menjilati area disana. Ini adalah pengalaman pertama yang dahsyat bagiku, sebelumnya aku tidak pernah dicumbu dengan cara begitu.
Dia kemudian mengurai ikatan baju bawahku, kini baju bawahku tertanggal dari tubuhku, membuat tubuh ini hanya tinggal memakai BH dan celana dalam, rasa malu kian menguat dalam hatiku, kucoba menggerakkan tangan menutupi ketelanjanganku, Roni rupanya menyadari rasa Maluku, karena dia segera menarikku semakin rapat ketubuhnya, sedangkan tangannya melemparkan baju bawahku jauh-jauh. Mataku terpejam semakin rapat menahan malu, mengingat karena tubuh yang tinggal memakai celana dalam dan BH ditatap dengan mata penuh napsu oleh anakku.